Jl. Dr. Gumbreg No.1 Purwokerto
  rsmargono@jatengprov.go.id
    (0281)632708

Chat

Radioterapi


Siapa yang tidak tahu tentang radioterapi? Tentu kita sabagai karyawan RS. Margono kalau ditanya jawabannya pasti tahu. Karena sejak dibukanya pelayanan Radioterapi pada bulan maret 2006 di RS. Margono, banyak diantara kita yang tercengang. Prediksi awal pelayanan radioterapi tidak ada pasiennya, tetapi justru sejak dibuka sampai sekarang pasien yang berobat ke Instalasi Radioterapi RSMS harus melalui daftar tunggu tertebih dahulu. Target pendapatan pada tahun pertama pada kisaran 400 juta rupiah,tetapi hanya dalam jangka waktu satu bulan target pendapatan sudah terpenuhi. Dan masih banyak lagi sisi-sisi lainnya yang bisa membuat kita tercengang.

Tetapi tahukah kita, bagaimanakah pelayanan radioterapi itu? Apakah hanya sekedar pelayanan sinar cobalt-60 atau ada jents-jenis pelayanan yang lainnya. Datam tulisan ini akan saya jelaskan tentang seluk beluk radioterapi dari mulai pengertian radioterapi sampai jenis pelayanan radioterapi yang kita punyai ini

A. Pengertian Radioterapi

Terapi Radiasi atau iebih dikenal istilah Radioterapi adatah pengobatan yang terutama ditujukan untuk keganasan dengan menggunakan sinar pengion. Meskipun demikian, ada beberapa bentuk penyakit yang bukan keganasan yang kadang diterapi dengan radioterapi ini, contohnya pengobatan ketoid, Grave's disease, Radikastrasi, dll, demikian pula kadang-kadang digunakan bukan sinar pengion, contohnya adalah gefombang panas (hyperthermia} yang digunakan secara bersama-sama untuk mendapatkan respon radiasi yang lebih baik untuk tumor-tumor tertentu.

B. Sejarah Perkembangan Radioterapi

Terapi radiasi ini lelah dilakukan tidak lama setelah Rontgen menemukan sinar X pada Nopember 1895 iebih dari 1 abad yang lalu. Tidak lama kemudian Curie menemukan suatu zat radioaktif vaitu Radium pada tahun 1898 yang kemudian dipergunakan sebagai bentuk terapi radiasi dan menjadi petopor brachytherapy. Sejalan dengan penemuan-penemuan tersebut, berkembang pula pengetahuan di bidang Radiofisika dan Radiobtologi, yang menjadi dasar pengetahuan dan penerapan dalam bidang ilmu Radioterapi. Perkembangan selanjutnya adalah berkembang pula cabang i!mu yang mempelajan keganasan yang disebut Onkologi pada berbagai cabang ilmu yang lain antara lain, Onkologi Dasar, Histopatologi Onkologi, Onkoiogi Medfk, Onkologi Bedah, Onkologi Ginekologi, Onkologi Radiasi, dtl; yang mempelajan secara mendalam mengenai keganasan.
Perkembangan radioterapi juga ditentukan dengan diciptakannya aiat-alat canggih berupa pesawat radiasi eksternaf, brakiterapi. Treatment Planning System, Simulator, CT Scan Simulator, yang keseluruhannya telah terkomputerisasi. Sejalan dengan itu juga dikembangkan teknik-teknik radiasi, sehingga radiasi dapat diberikan dengan akurat dan aman, Oleh karena itu pendekatan penanganan keganasan saat ini, baik untuk Diagnostik maupun untuk Terapi adalah pendekatan Multi Disiplin, sehingga pasien tidak ditangani secara sendiri-sendiri di tiap disiplinilmu.
Onkologi Radiasi sendtri adalah cabang ilmu klinik yang mengobati kanker dan penyakit lain dengan sinar pengion, baik radioterapi saja maupun kombinasi dengan bentuk pengobatan lain, mengadakan penelitian di bidang fisika radiasi dan radiobiologidan pendidikan di bidang profesi.
Radiation therapy adalah cabang ifmu yang hanya mengobati pasien dengan keganasan dan bukan keganasan dengan sinar pengion.

C.Tujuan Terapi Radiasi/Radioterapi

Tujuan radiasi secara umum terbagi dua yaitu:

  1. Radioterapi Definitif
  2. Radioterapi Paliatif

Radioterapi Definitif adatah bentuk pengobatan yang ditujukan untuk kemungkinan survive setelah pengobatan yang adekuat, bahkan juga bila kemungkinan survive itu rendah, contoh pada tumor-tumor dengan T4 pada tumor kepala dan leher, pada pasien kanker paru dan kanker serviks stadium F!GO Ml b atau bahkan IVa,
Radioterapi Paliatif adalah bentuk pengobatan dimana tidak ada lagi harapan untuk hidup pasien untuk jangka panjang. Keluhan dan gejala yang dirasakan oleh pasien yang harus dihitangkan merupakan bentuk pengobatanyangdiberikan. Tujuan pengobatan paliatif dengan demikian untuk menjaga kualitas hidup pasien di sisa hidupnya dengan menghilangkan keiuhan dan gejala, sehingga pasien hidup dengan lebih nyaman.
Kombinasi pemberian radioterapi juga dapat berbentuk:

  1. Radioterapi saja
  2. Radiasi preoperasi
  3. Radiasi postoperasi
  4. Kombinasi Kemoradiasi
  5. Radiasi intra/perioperatif

Radioterapi saja adalah bentuk pengobatan dengan radiasi
saja sejak dari awal sampai akhir. Pada pelaksanaannya
teknik   radiasi   menggabuhgkan   berfaagai  teknik  radiasi
dengan tujuan untuk menjaga jaringan sehat dari efek buruk
radiasi.
Radiasi preoperasi adalah bentuk pengobatan radiasi yang mendahului tindakan operasi, tujuan utama adalah untuk meningkatkan resektabilitas dari tumor, oleh karena dengan radiasi tumor akan mengecil, batas-batas menjadi jelas dan tegas sehingga operasi lebih mudah dilakukan, tujuan kedua adalah untuk mengurangi kemungkinan metastase jauh akibat tindakan operasi, oleh karena set-sel yang terkena radiasi sudah tidak mempunyai kemampuan untuk htdup di tempat lain, bila sel ini terlepas dan masuk pembuluh darah pada saat tindakan operasi.
Radiasi postoperasi adalah pengobatan adjuvant yang dilakukan setelah tindakan operasi. Radiasi ditakukan dengan tujuan untuk mencegah timbulnya kekambuhan lokal yang disebabkan oleh adanya resiko terjadinya kambuh iokal berupa:

  1. Adanya residu tumor setelah operasi, baik gross residu. mikroskopik residu, tepi sayatan tidak bebas tumor, kelenjar getah benlng regional yang positif mengandung anak sebar tumor, secarta histologi berdiferensiasi buruk, atau bentuk histologi yang angka kekambuhannya tinggi, contoh adenokarsinoma atau adenoskuamosa.
  2. Tumor-tumor yang kemungkinankambuh sangat tinggi. Kemoradiasi adalah bentuk pengobatan kombinasi antara radiasi dengan kemoterapi dengan tujuan untuk meninggikan respon radiasi. Kemoterapi disini bersifat sebagai radiosensitiser. Kemoradiasi dapat berbentuk neoadjuvant sebelum tindakan operasi, ataupun dapat berdiri sendiri tanpa operasi.

Radiasi intra/peri operatif dilakukan pada saat operasi sebelum luka operasi ditutup.Tekniknya dapat berupa:

  1. Kontak radioterapi dengan menggunakan sinar elektron.
  2. Brachyterapi.

Kegagalan radioterapi untuk mengeliminasi tumor dapat disebabkan beberapa hal:

  1. Bila ukuran tumor terlalu besar
  2. Bila volume radiasi tidakadekwat
  3. Bila tumorada daiam keadaan hypoxic
  4. Bila tumor dalam siklus sel yang tidak berespon terhadap radiasi 5. Dosis total yang harus diberikan tidak sesuai oleh karena dibatasiolehjaringansehatsekitar tumor

D. Penatalaksanaan Radioterapi

Untuk menguraikan penatalaksanaan radioterapi harus dilihat kasus per kasus. Apakah penatalaksanaan radioterapi dengan kasus kanker cerviks, payudara, nasofaring dll. Tetapi untuk lebih singkatnya saya jelaskan penatalaksaan secara global.
Mungkin diantara kita ada yang pernah berinteraksi dengan radioterapi, apakah sekedar mengantar pasien, keluarga atau hanya sekedar mendengar saja mengapa proses radioterapi memerlukan waktu yang panjang. Bisa dua.tiga bahkan empat faulan baru selesai menjalani radioterapi.
Pasien yang akan menjalani radioterapi harus melengkapi data-data pendukung. Data pendukung tersebut berupa hasil pemeriksaan Patologi Anatomi(PA) untuk memastikan bahwa si pasien benar-benar terkena penyakit kanker. Di samping itu hasil PA juga berfungsi untuk menentukan stadium penyakit. Dengan mengetahui stadium, dokter akan mudah menentukan dosis maupun treatment yang akan dijalani pasien. Data pendukung latnnya adalah kadar Haemoglobin (HB) pasien. Kadar HB menunjukkan respon tidaknya sel kanker terhadap radiasi. Pasien dengan kadar Hb dibawah 10, se! kankernya kurang respon terhadap radiasi, sehingga apafaila radiasi diberikan kurang efektif. Agar se! kanker respon terhadap radiasi kadar HB harus diatas 10. Foto Rontgen Thorax dan CT Scann juga dibutuhkan untuk mengetahui ada tidaknya metastase. Kadang juga dibutuhkan Foto Rontgen Bone survey dan USG.
Untuk melengkapi data-data pendukung tersebut biasanya pasien memerlukan tidak cukup dijalani satu hart jadi, tetapi butuh beberapa hari. Setelah data-data pendukung lengkap pasien diinstruksikan untuk menjali simulasi di ruang simulator, karena daya tampung peralatan kita sangat terbatas, maka untuk menjalani simulasi pasien harus mengantri, sehingga diperlukan penjadwalan. Biasanya selang antara instruksi simulasi dari dokter dengan pelaksaanaan simulasi sekitar satu minggu. Hasil simulasi diverifikasi didalam Treatment Planning System (TPS) kurang lebih memakan waktu dua sampai tiga hart. Apabila hasil olahan TPS sudah cukup, maka pasien baru bisa menjalani penyinaran Cobalt-60, tetapi apabila belum cukup karena adanya modivikasi-modivikasi, maka perlu dilakukan verifikasi dengan simulator lag). Setelah diverifikasi baru pasien siap di sinar dengan cobalt-60. Waktu yang dibutuhkan dalam penyinaran cobalt-60 bisanya antara 5-6 minggu ini terkandung dosis yang diberikan dan teknik yang dipergunakan.

Pencarian Berita

Arsip Berita