Jl. Dr. Gumbreg No.1 Purwokerto
  rsmargono@jatengprov.go.id
    (0281)632708

Chat

Digital Subtraction Angiography (DSA)

Posted on 20 April 2015 12:02:15


Digital Subtraction Angiography (DSA) awalnya adalah teknik yang dilakukan untuk menggambar pembuluh darah, dengan menyemprotkan zat kontras (iodine) agar bisa dideteksi oleh alat X-ray melalui film. DSA bisa diaplikasikan pada pembuluhjantung, kepala, kaki, perut, hati, dU. Penggunaan iodine dikarenakan eairan tersebut terlihat jelas pada X-ray, serta dapat dengan mudah diserap dan dikeluarkan oleh tubuh.

Digital Subtraction Angiography (DSA) Lebih Nyaman

Pada DSA konvensional, untuk menggambar pembuluh otak, eairan kontras disemprotkan melalui pembuluh leher sebagai pembuluh terdekat. Film yang digunakan pun berlapis-Iapis. Kini dengan teknologi terkini dan sistem digital yang terkomputerisasi, DSA bisa mendeteksi abnormaIitas pada pembuluh darah seeara lebih jelas dan terukur, serta penggunaan eairan kontras seminimal mungkin. Kemajuan paling signifikan dibandingkan sistem konvensional, adalah penggunaan kateter (selang keeil dengan diameter lebih keeil dari 2 mm) melalui pembuluh kaki (femoral). Selain lebih nyaman, prosedur yang dikenal sebagai Trans Femoral Cerebral Angiography (TFCA) ini juga lebih aman bagi pasien, karena pembuluh leher (earotis) memiIiki sensitivitas yang vital bagi lanearnya darah dari dan menuju otak. Jadi dengan tindakan invasif seminimal mungkin, hasil yang dieapai pun lebih baik.

TujuanDSA
Tujuan DSA ada dua, yaitu:

  • Diagnostik, yaitu untuk mendeteksi kelainan pembuluh darah, vaskularisasi tumor,dan lain-lain.  Pasien hanya perlu melakukan persiapan berupa puasa empat jam, pengeeekan Hb dan ieukosit, fungsi ginJai dan batL Pasien dengan diabetes meiHtus sebaiknya mengbentikan pemakaian obat sehari sebelum tindakan DSA .
  • Terapeutik, yaitu untuk tindakan pengobatan abnormalitas pada pembuluh darah, dengan cara memasukkan obat, alat, maupun implan pada pembuluh yang dituju. DSA juga digunakan sebagai terapi pelengkap sebelum menjalani operasi.

Tidak tertutup kemungkinan, pada saat menjalani DSA, pasien yang bertujuan diagnostik harns langsung menjalani tindakan terapeutik. Tindakan DSA pada sistem saraf manusia dikenal dengan istlJah neurointervensi, dan menJadi teknik yang Jebih banyak digunakan pada kasus aneurisma dan stroke, karena penggunaan obat menjadi lebih tepat sasaran.
Pasien stroke iskemik 'yang dapat menjalani tindakan neurointervensi harus memenuhi beberapa kriteria neurointervensi, yaitu tidak berusia lebih dari 86 tahun, tidak boleh mengalami pendarahan, tekanan daraIl relatif normal, serta masih dalam peri ode emas, yakni kurang dari 8 jam setelah serangan terjadi. Pada penanganan stroke ini, fokusnya adalah apakah otak masih hidup atau tidak. Jika sel otak sudah rusak, aliran darah yang sudah dilancarkan pun tidak berguna lagi.

Efek Samping

Risiko tindakan DSA kini jauh lebih kecil dibandingkan dengan prosedur yang harus ditempuh sebelum teknologi ini berkembang, dimana pasien harus menjalani operasi vital, seperti pembukaan tengkorak, yang juga dapat mengakibatkan infeksi. Kini risiko yang ada hanyalah kemungkinan pergesekan pembuluh dengan kateter, atau robeknya pembuluh darah. DSA kini jauh lebih minim risiko.

DSA di Indonesia

Teknik DSA sebenamya ierlebih dahulu dimanfaatkan dalam cardiologi. dan baru belakangan ini berkembang menjadi salah satu teknik neurointervensi. Tidak ban yak rumah sakit yang memiliki tenaga ahli di bidang neurointervensi, walaupun mempunyai alatnya. Eka Hospital merupakan salah satu dari sedikit rumah sakit yang memiliki alat sekaligus tenaga ahli di bidang neurointervensi, yaitu neuro vascular surgeon dan endo vascular surgeon, yang bahu-membahu menangani tindakan kritis daJam neurointervensi.


Komentar Berita.

Belum ada komentar.

Pencarian Berita

Arsip Berita